0
30 Apr
Dikirim pada 30 April 2013 di budaya

 

Suku Samin, adalah suatu kelompok masyarakat yang terdapat di daerah Blora provinsi Jawa Tengah dan Bojonegoro provinsi Jawa Timur.

Pemukiman suku Samin ini berada di tengah hutan, mereka sengaja menjauhkan diri dari kehidupan keramaian dan menjalankan tradisi hidup mereka yang berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Mereka memperlakukan alam dengan baik. Mengambil kayu bakar hanya seperlunya dan tidak mengeksploitasi secara berlebihan. Mereka lebih suka berjalan kaki, sejauh apapun yang mereka tempuh. Mereka tidak bisa berbahasa Indonesia.
Semua ini mereka jalani karena sesepuh mereka, Samin Surosinteko merupakan penentang keras materialisme dan kapitalisme yang dibawa oleh kolonial Belanda.

Orang Samin berbicara menggunakan bahasa Kawi yang dikombinasikan dengan dialek setempat, yaitu bahasa Kawi desa kasar. Suku Samin mengalami perkembangan dalam hal kepercayaan dan tata cara hidup. Kawasan daerah Pati dan Brebes, terdapat pecahan suku Samin yang disebut Samin Jaba dan Samin Anyar, yang telah meninggalkan tatacara hidup suku Samin dahulu. Selain itu, di Klapa Duwur (Blora) Purwosari (Cepu), dan Mentora (Tuban) dikenal Wong Sikep, mereka ini dulunya fanatik, tapi kini meninggalkan tata cara hidup dan keyakinan suku Samin yang dahulu, dan memilih agama resmi, yakni agama Budha-Dharma.

Ajaran dan kepercayaan Saminisme, muncul sebagai akibat atau reaksi dari pemerintah kolonial Belanda yang sewenang-wenang. Perlawanan dilakukan tidak secara fisik tetapi berwujud penentangan terhadap segala peraturan dan kewajiban yang harus dilakukan rakyat terhadap Belanda misalnya dengan tidak membayar pajak. Terbawa oleh sikapnya yang menentang tersebut mereka membuat tatanan, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan tersendiri yang akhirnya terbentuk suatu komunitas tersendiri serta kepercayaan dan tata cara hidup tersendiri, dan komunitas mereka ini disebut suku Samin.

Tokoh perintis ajaran Samin Raden Surowijoyo. Pengetahuan intelektual Kyai Samin ini didapat dari ayah, yaitu anak dari pangeran Kusumaniayu (Bupati Sumoroto). Laki-laki kelahiran tahun 1859, Raden Surowijoyo melakukan perampokan pada keluarga kaya dan hasilnya dibagi-bagi kepada fakir miskin (mirip kisah Robinhood, atau Robinhood ala Jawa). Gerakan agresif revolusioner Kyai Samin Surosantiko, dicekal oleh Belanda dan dibuang ke Tanah Lunto pada tahun 1914. Kyai Samin Surosantiko merupakan generasi Samin Anom yang melanjutkan gerakan dari sang Ayah yang disebut sebagai Samin Sepuh..
 

 

Samin yang ditulis dalam bahasa jawa baru yaitu dalam bentuk puisi tradisional (tembang macapat) dan prosa (gancaran). Secara historis ajaran Samin ini berlatar dari lembah Bengawan Solo (Boyolali dan Surakarta). Ajaran Samin berhubungan dengan ajaran agama Syiwa-Budha, sebagai sinkretisme antara Hindhu-Budha. Namun pada perjalannnya ajaran ini juga dipengaruhi oleh ajaran ke-Islaman yang berasal dari ajaran Syeh Siti Jenar yang dibawa oleh muridnya yaitu Ki Ageng Pengging. Sehingga patut dicatat bahwa orang Samin merupakan bagian masyarakat yang berbudaya dan religius. Daerah persebaran ajaran Samin menurut Sastroatmodjo (2003) diantaranya di Tapelan (Bojonegara), Nginggil dan Klopoduwur (Blora), Kutuk (Kudus), Gunngsegara (Brebes), Kandangan (Pati) dan Tlaga Anyar (Lamongan). Ajaran di beberapa daerah ini merupakan sebuah gerakan meditasi dan mengerahkan kekuatan batiniah guna menguasai hawa nafsu. Sebab perlawanan orang Samin sebenarnya merefleksikan kejengkelan penguasa pribumis etempat dalam menjalankan pemerintahan di Randublatung.

Lima aturan dalam ajaran Samin:
 

·                     tidak bersekolah

·                     tidak memakai peci, tapi memakai "iket", yaitu semacam kain yang diikat di kepala

·                     tidak berpoligami

·                     tidak memakai celana panjang, dan hanya pakai celana selutut

·                     tidak berdagang


Pokok-pokok ajaran Saminisme
 

·                     Agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting adalah tabiat dalam hidupnya.

·                     Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka irihati dan jangan suka mengambil milik orang lain.

·                     Bersikap sabar dan jangan sombong.

·                     Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama denganroh dan hanya satu dibawa abadi selamanya.Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal, namun hanya menanggalkan pakaiannya.

·                     Bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur dan saling menghormati. Berdagang bagi orang Samin dilarang karena tertulis dalam Kitab Suci Orang Samin.


Daerah penyebaran dan para pengikut ajaran Samin pertama kali tersebar di daerah Klopoduwur, Blora provinsi Jawa Tengah. Pada 1890 pergerakan Samin berkembang ke dua desa hutan kawasan Randublatung kabupaten Bojonegoro provinsi JawaTimur.



Dikirim pada 30 April 2013 di budaya
comments powered by Disqus
Profile

semua harus dapat dilhata dari berbagai aspek More About me

Page
Archive
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 3.548 kali


connect with ABATASA